Depresi, si Jahat yang Dianggap Remeh
Apakah Anda pernah merasakan sedih yang berlarut-larut? Atau merasakan
galau dan stres berkepanjangan?
Masih banyak orang yang beranggapan bahwa depresi dan stres bukanlah sebuah
gangguan mental dan hanya merupakan masalah ringan yang akan hilang dengan
sendirinya. Hal ini membuat orang-orang menjadi kurang peka terhadap kesehatan
mentalnya.
Setiap orang memiliki masalahnya sendiri.
Beberapa orang mampu mengatasinya dengan baik, namun ada pula yang tak mampu,
dan itu memungkinkan mereka mengalami depresi. Depresi tak pernah mengenal
siapa yang dihampirinya. Entah itu anak-anak, remaja, dewasa, lansia, kaya,
miskin, dan sebagainya.
Jumlah penderita depresi wanita dua kali lebih
banyak dari pria, tetapi pria lebih berkecenderungan bunuh diri. Di Amerika
Serikat, 17% orang pernah mengalami depresi pada suatu saat dalam hidup mereka,
dengan jumlah penderita saat ini lebih dari 19 juta orang. Depresi merupakan
salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapat perhatian
serius. Dinegara-negara berkembang, WHO memprediksikan bahwa pada tahun 2020,
depresi akan menjadi salah satu gangguan mental yang banyak dialami dan depresi
berat akan menjadi penyebab kedua terbesar kematian setelah serangan jantung.
Berdasarkan data WHO tahun 1980, hamper 20% - 30% dari pasien rumah sakit di
Negara berkembang mengalami gangguan mental emosional seperti depresi (Dirgayunita,
2016).
1.
Pengertian
Depresi adalah gangguan alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan dan kesedihan
yang mendalam dan berkelanjutan sehingga menyebabkan hilangnya kegairahan
hidup, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas (Reality Testing Ability/RTA masih baik), kepribadian
yang utuh (tidak mengalami keretakan kepribadian/spliting of personality,
perilaku dapat mengganggu tetapi masih dalam batas-batas normal (Hawari, 2011).
Depresi merupakan gangguan mood berupa
kesedihan yang intens, berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan
normal yang insidennya semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan
hidup. Tahun 2020, depresi diperkirakan menempati urutan kedua penyakit di
dunia. Gejala-gejala depresi terdiri dari gangguan emosi, gangguan kognitif,
keluhan somatik, gangguan psikomotor, dan gangguan vegetatif. Salah satu gejala
depresi yang muncul adalah gangguan tidur yang bisa berupa insomnia, bangun
secara tiba-tiba, dan hipersomnia. Hal ini disebabkan oleh gangguan
neurotransmiter dan regulasi hormon. Selain sebagai gejala depresi, gangguan
tidur juga bisa merupakan penyebab depresi. Beberapa penelitian memberikan hubungan
gangguan tidur dapat meningkatkan risiko depresi di kemudian hari (Radityo,
2012).
Jadi dari pernyataan di atas, dapat
disimpulkan bahwa depresi adalah suatu gangguan mental yang ditandai dengan
perasaan sedih yang berlangsung dalam waktu lama dan berkelanjutan, sehingga
tidak jarang menghambat segala aktivitas yang dilakukan oleh seseorang.
2. Faktor-Faktor
Penyebab Depresi
A. Faktor Biologis
Beberapa
peneliti menemukan bahwa gangguan mood melibatkan patologik dan sistem limbiks
serta ganglia basalis dan hypothalamus. Dalam penelitian biopsikologi,
norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotrasmiter yang paling berperan
dalam patofisiologi gangguan mood. Pada wanita, perubahan hormon dihubungkan
dengan kelahiran anak dan menoupose juga dapat meningkatkan risiko terjadinya
depresi. Penyakit fisik yang berkepanjangan sehingga menyebabkan stress dan
juga dapat menyebabkan depresi.
B. Faktor Psikologis/Kepribadian
Individu
yang dependent, memiliki harga diri
yang rendah, tidak asertif, dan menggunakan ruminative
coping. Nolen – Hoeksema & Girgus juga mengatakan bahwa ketika
seseorang merasa tertekan akan cenderung fokus pada tekanan yang mereka rasa
dan secara pasif merenung daripada mengalihkannya atau melakukan aktivitas
untuk merubah situasi. Pemikiran irasional yaitu pemikiran yang salah dalam
berpikir seperti menyalahkan diri sendiri atas ketidak beruntungan. Sehingga
individu yang mengalami depresi cenderung menganggap bahwa dirinya tidak dapat
mengendalikan lingkungan dan kondisi dirinya. Hal ini dapat menyebabkan
pesimisme dan apatis.
C. Faktor Sosial
a.
Kejadian tragis seperti kehilangan
seseorang atau kehilangan dan kegagalan pekerjaan;
b.
Paska bencana;
c.
Melahirkan;
d.
Masalah keuangan;
e.
Ketergantungan terhadap narkoba atau
alkhohol;
f.
Trauma masa kecil;
g.
Terisolasi secara sosial;
h.
Faktor usia dan gender;
i.
Tuntutan dan peran sosial misalnya untuk
tampil baik, menjadi juara di sekolah ataupun tempat kerja;
j.
Maupun dampak situasi kehidupan
sehari-hari lainnya. (Dirgayunita, 2016)
3.
Gejala-Gejala Deperesi
Dikutip
dari Dirgayunita
(2016), berikut adalah gejala-gejala depresi.
A. Gejala Fisik
·
Gangguan pola tidur; sulit tidur (insomnia)
atau tidur berlebihan (hipersomnia);
·
Menurunnya tingkat aktivitas, misalnya
kehilangan minat, kesenangan atas hobi atau aktivitas yang sebelumnya disukai;
·
Sulit makan atau makan berlebihan (bisa
menjadi kurus atau kegemukan);
·
Gejala penyakit fisik yang tidak hilang
seperti sakit kepala, masalah pencernaan (diare, sulit BAB dll), sakit lambung
dan nyeri kronis;
·
Terkadang merasa berat di tangan dan
kaki;
·
Energi lemah, kelelahan, menjadi lamban;
·
Sulit berkonsentrasi, mengingat,
memutuskan.
B. Gejala Psikis
·
Rasa sedih, cemas, atau hampa yang terus
– menerus;
·
Rasa putus asa dan pesimis;
·
Rasa bersalah, tidak berharga, rasa
terbebani dan tidak berdaya/tidak berguna;
·
Tidak tenang dan gampang tersinggung;
·
Berpikir ingin mati atau bunuh diri;
·
Sensitif;
·
Kehilangan rasa percaya diri.
C. Gejala Sosial
·
Menurunnya aktivitas dan minat
sehari-hari (menarik diri, menyendiri, malas);
·
Tidak ada motivasi untuk melakukan
apapun;
·
Hilangnya hasrat untuk hidup dan keinginan
untuk bunuh diri.
4.
Cara Mengatasi
Depresi
a.
Bersikap realistis
Kita harus menerima diri dan
kemampuan kita apa adanya.
b.
Jangan pernah membandingkan
apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki orang lain
Hal ini akan membuat
kita terus-menerus merasa kurang akan diri kita.
c.
Memaafkan diri
sendiri
Berbuat kesalahan
adalah sesuatu yang wajar, cukup jadikan pelajaran dan teruslah melangkah
menjadi lebih baik lagi.
d.
Berani berbicara
Jangan ragu untuk
menumpahkan beban yang ada dalam diri Anda. Temui orang-orang yang Anda
percayai untuk hal ini.
e.
Menjaga kesehatan
Di dalam tubuh yang sehat,
terdapat jiwa yang kuat.
f.
Membuka diri dan
bergaul
Keberadaan orang lain
akan sangat membantu di saat Anda memerlukan bantuan kelak, baik itu materi
maupun non-materi.
5.
Kesimpulan
Depresi bukanlah
suatu hal yang sepele. Depresi adalah sebuah penyakit yang sangat membahayakan
bila tidak kita atasi sesegera mungkin.
Jika Anda merasakan
gejala-gejala yang tersebut di atas, ada baiknya bagi Anda untuk segera
berkonsultasi pada tenaga ahli. Jangan menunggu sampai keberadaan depresi
menghambat segala aktivitas Anda.
Kesehatan mental sama
pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan ragu untuk menolong diri Anda
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Dirgayunita, A. (2016). Depresi : Ciri, Penyebab dan
Penangannya. An-Nafs: Kajian Dan Penelitian Psikologi.
Hawari, D. (2011). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Balai
Penerbit FKUI. https://doi.org/10.1300/J096v07n01_02
Radityo, W. E. (2012). Depresi dan Gangguan Tidur. Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana.

Bermanfat sekali 😳👍🏻
BalasHapusTerima kasih kakak, sangat membantu materinya
BalasHapusSangat menginspirasi
BalasHapusSangat bermanfaat setelah membaca saya menjadi lebih berpengetahuan
BalasHapusBuat yang mudah depresi, wajib baca!!👍
BalasHapusjadi inget....
BalasHapus